The Urheka Project : Mimpi Dalam Mimpi

"All that we see, or seem, is but a dream within a dream." - Edgar Allan Poe, A Dream Within A Dream, 1846.

Thursday, July 02, 2009

Year Of The Cat

YEAR OF THE CAT
Al Stewart

On a morning from a Bogart movie
In a country where they turn back time
You go strolling through the crowd like Peter Lorre
Contemplating a crime
She comes out of the sun in a silk dress running
Like a watercolour in the rain
Don't bother asking for explanations
She'll just tell you that she came
In the year of the cat.

She doesn't give you time for questions
As she locks up your arm in hers
And you follow 'till your sense of which direction
Completely disappears
By the blue tiled walls near the market stalls
There's a hidden door she leads you to
These days, she says, I feel my life
Just like a river running through
The year of the cat

She looks at you so cooly
And her eyes shine like the moon in the sea
She comes in incense and patchouli
So you take her, to find what's waiting inside
The year of the cat.

Well morning comes and you're still with her
And the bus and the tourists are gone
And you've thrown away the choice and lost your ticket
So you have to stay on
But the drum-beat strains of the night remain
In the rhythm of the new-born day
You know sometime you're bound to leave her
But for now you're going to stay
In the year of the cat

Labels:

Sunday, June 28, 2009

Cun Kuan Ce

CUN KUAN CE

1/

Kau letakkan jari-jemari lentikmu di kedua pergelangan tanganku. Tangan kananmu di tangan kiriku, tangan kirimu di tangan kananku. Jari telunjuk, jari tengah dan jari manis di posisi cun kuan ce. Paru-paru, limpa dan pericardium di tangan kanan. Jantung, hati dan ginjal di tangan kiri. Belajar merasakan nadi. Kau meletakkan jari-jemarimu, tanpa menekan. “Auw, bagus sekali jemarimu,” pikirku.

“Nadimu mengambang, cepat dan kuat!”
katamu sambil tersenyum.

Ah, apa kau tidak merasakan detak jantungku yang berdebar-debar?

2/

Aku meletakkan jari-jemariku di kedua pergelangan tanganmu. Tangan kananku di tangan kirimu, tangan kiriku di tangan kananmu. Aku meletakkan jari-jemariku, tidak merasakan apa-apa. Aku menekannya, juga tidak merasakan apa-apa.

“Nadimu tenggelam, lambat dan lemah ya?”
kataku agak ragu.

Ah, apa kau tidak merasakan apa-apa saat kusentuh kulitmu yang halus itu?

Jakarta, 29 Juni 2009

Urip Herdiman K.

Catatan :
Cun kuan ce, tiga titik penting di pergelangan tangan bagian dalam sebelah luar, untuk perabaan nadi dalam akupunktur.

Labels:

Tuesday, June 23, 2009

Bukan Kecap Pilpres 2009

BUKAN KECAP PILPRES 2009

Satu putaran?
Lanjutkan!
Lebih cepat, lebih baik

Jakarta, 24 Juni 2009

Urip Herdiman K.

Labels:

Renungan Bhisma Di Depan Pintu Maut

RENUNGAN BHISMA DI DEPAN PINTU MAUT

: Anwar Holid


1/

Hari kesepuluh Perang Bharatayudha di padang Kurusetra. Matahari ada di sebelah selatan.


Menjelang petang, akhirnya ksatria tua itu tumbang setelah dihujani panah oleh Srikandi, tanpa perlawanan. Tubuhnya seperti landak, rebah di atas puluhan anak panah yang menyangganya sehingga tidak jatuh di atas tanah.

Seperti ketika ia mengucapkan sumpahnya dahulu untuk hidup selibat, hujan bunga-bunga nan wangi jatuh di Kurusetra yang panas dan penuh darah.

Pertempuran terhenti. Semua pihak tergopoh-gopoh datang menghampiri Bhisma dan memberikan sembah hormatnya. Arjuna membuat bantalan dari anak panah untuk menyangga leher dan kepala kakeknya.

“Aku belum akan mati saat ini. Aku menunggu matahari kembali ke titik baliknya di utara,” kata Bhisma perlahan-lahan pada yang hadir di sekitarnya, baik dari pihak Pandawa maupun Kurawa.

Hanya Bhisma satu-satunya manusia yang bisa menentukan sendiri kapan waktu yang tepat untuk kematiannya.

“Pulanglah, dan hentikan perang yang sia-sia ini. Perang ini tidak ada manfaatnya, perang ini hanya membawa kehancuran dan luka-luka!”

2/

Padang Kurusetra menjadi sepi. Hanya ada kesunyian dan bau anyir darah yang mengambang. Di bawah tenda darurat yang didirikan untuk melindunginya dari panas dan hujan, Bhisma menatap langit malam penuh bintang. Sang Resi mencoba memahami mengapa perang saudara ini harus terjadi.

3/

Ia sadar bahwa semua sebab akan menghasilkan akibat. Sesuatu yang terdahulu menyebabkan sesuatu yang datang belakangan. Sesuatu yang kecil akan bisa mengakibatkan sesuatu yang besar di kemudian hari.

Ia mengingat-ingat bagaimana ia dahulu bersumpah selibat hanya untuk memberikan jalan pada ayahnya menikahi seorang wanita muda, putri seorang nelayan. Apakah ini yang menjadi penyebab?

Ia menolak permintaan ibu tirinya untuk menikahi salah satu dari istri-istri kedua adik tirinya, agar wangsa Bharata punya keturunan. Apakah ini yang menjadi penyebabnya?

Ia mendidik cucu-cucunya, anak-anak Pandu dan Destrarastra sejak mereka kecil. Ia menyayangi Pandawa dan Kurawa sama rata sama rasa, tidak membeda-bedakan keduanya. Tetapi ia melihat mereka berkembang ke arah yang berlawanan. Apakah ini yang menjadi penyebabnya?

Ia bersedih hati ketika Pandawa kalah bermain dadu dan harus mengembara di hutan selama dua belas tahun. Sementara Kurawa memegang kekuasaan di Hastina. Apakah ini yang menjadi penyebabnya?

Ia bisa menerima ketika Pandawa menuntut hak atas takhta Hastina, dan marah dengan penolakan Kurawa. Apakah ini yang menjadi penyebabnya?

Ia sadar bahwa kata-katanya hanya didengar oleh Pandawa, dan diabaikan oleh Kurawa. Apakah ini yang menjadi penyebabnya?

4/

Kata-kata Bhisma tidak bisa menghentikan peperangan. Di hari kesebelas, perang berlanjut kembali. Derap kereta kuda bergemuruh. Panah-panah beterbangan, pedang-pedang beradu, darah dan air mata membasahi bumi.

5/

Ia sadar bahwa kematiannya di perang besar telah digariskan dewata. Ia sadar pula bahwa cara kematiannya adalah karma masa lalunya, ketika ia menolak cinta Amba yang setia mengikuti kemana pun ia pergi. Amba yang tewas tertembus anak panahnya tanpa sengaja. Amba yang bersumpah untuk menitis dalam tubuh prajurit wanita untuk menjemputnya.

Airmata menitik dari sudut matanya.

Dan ketika ia melihat Srikandi hadir di medan perang, ia tahu bahwa waktunya telah tiba. Ia melihat inkarnasi Amba menitis di dalam diri prajurit wanita itu, istri Arjuna. “Aku datang untuk menjemputmu, Kakanda. Kita akan bersama menuju alam keabadian,” kata Amba.

Ia menikmati hujan panah yang diarahkan ke tubuhnya, tanpa perlawanan.

6/

Perang berakhir di hari kedelapan belas. Hanya Pandawa yang datang menjenguk, tak ada lagi Kurawa. Tetapi matahari belum kembali ke titik baliknya di utara. Dan masih ada pertanyaan yang menggantung di depan pintu maut. Kenapa ia bisa sampai terlibat di dalam perang ini?

“Aku tidak memusuhi Pandawa, karenanya aku tidak bertempur melawan mereka. Tetapi aku juga bukan membela Kurawa, walau aku makan dari mereka. Apakah aku benar, ataukah aku salah, ketika aku memutuskan maju berperang membela negeriku, tanah airku?”
tanya Bhisma pada Krishna, sebelum perang pecah.

“Kakek Bhisma, kau tidak bersalah. Tugasmu sebagai ksatria, sebagai prajurit, adalah berperang membela negara. Kau berperang untuk membela negaramu,”
jawab Krishna.

7/

Dan kini, di malam-malam yang panjang, pertanyaan itu menggema kembali. “Apakah aku benar? Apakah aku salah?”

“Dewabrata, anakku, kau telah mengambil keputusan yang benar. Kau lahir dari kelas ksatria. Kau makan dari hasil bumi negerimu, dan kau minum air tanah negerimu sendiri. Sudah tugasmulah berperang untuk membela negara. Keputusanmu sudah benar, anakku,”
bisik ibunya, Dewi Gangga, dalam mimpinya di malam terakhir.

8/

Malam terakhir yang sunyi, malam yang penuh bintang. Bhisma tersenyum dan menutup mata. Wajahnya tenang dan bercahaya.

9/

Matahari telah berada di titik baliknya di sebelah utara.

Semua yang berdaging dan berdarah, akan menjalani penyucian setelah kematiannya. Dari tanah kembali ke tanah, dari cahaya kembali ke cahaya.


Jakarta, 23 – 24 Juni 2009

Urip Herdiman K.

Labels:

Monday, June 22, 2009

Cermin Sang Nyonya

CERMIN SANG NYONYA

Cermin memang ajaib. Cermin menangkap dan memantulkan apa yang ada di depannya, tak peduli bagus atau jelek, elok atau buruk. Cermin berbicara apa adanya, tidak membeda-bedakan, dan juga tidak menyensor.

Setiap hari, bisa pagi bisa petang bisa juga malam, ia selalu duduk di depan cermin. Atau sesekali berdiri dan berjalan-jalan. Jika sudah begitu, ia tahan berlama-lama menatap wajah dan dirinya sendiri. Melihat, mengamati, meneliti, menelaah, menjelajah. Matanya, hidungnya, telinganya, rambutnya, lehernya, dadanya…aih. “Tak ada yang menyamai diriku, tak boleh ada yang menyamaiku!” pikirnya.

Dahulu ketika masih muda dan belum punya apa-apa, ia tak peduli cermin seperti apa yang ada di depannya. Cermin yang ia punya hanya cukup seukuran tubuhnya saja. Langsing.

Tetapi kini, setelah ia bisa memiliki semua yang diinginkannya, ia menjadi peduli pada cermin seperti apa yang harus ada di depannya. Apakah datar, cembung atau cekung. Satu hal yang pasti, cermin itu harus lebih lebar dari bentuk tubuhnya yang meluas beberapa millimeter setiap tahunnya. Ia bisa tersenyum dan tertawa senang karenanya. Atau merengut, cemberut, marah-marah dan memaki-maki.

Dan semua dipantulkan oleh cermin itu, tak ada satu pun yang terlewatkan.

Suatu malam menjelang tidur, seperti biasa, ia duduk berjam-jam di depan cerminnya. Ia memang sudah tidak muda lagi. Tetapi lekuk-lekuk tubuhnya masih bisa membetot mata para lelaki. Tubuh yang subur dan indah permai.

Ditatapnya rambut yang mulai dihiasi warna putih. Keriput yang mulai bisa dihitung. Kantung mata yang agak gelap. Kulit yang harus selalu diberi pelembab. Dan ia masih bisa tersenyum melihat bibirnya yang mungil, tipis, basah, merekah. “Bibir ini tidak perlu ikut-ikutan menjadi tua,” ucapnya lirih.

Tiba-tiba ada sebuah lampu yang menyala di dalam otaknya. Cling! “Aku bosan menatap diriku sendiri setiap hari. Aku ingin sesuatu yang berbeda.”

Pagi berikutnya, pembantu masuk ke dalam kamar sang nyonya. Tidak ditemukan majikannya yang biasa menatap dirinya sendiri di cermin setiap pagi, tetapi ia mendengar seseorang memanggil-manggilnya. “Surti, Surti…kemari.”

Surti, pembantu itu, celingak-celinguk hingga mengarahkan pandangan matanya pada cermin sang nyonya. “Aku disini, di dalam cermin!”


Jakarta, 22 Juni 2009

Urip Herdiman K.

Labels:

Wednesday, June 17, 2009

Isu Pertahanan Dalam Kampanye Pilpres 2009

ISU PERTAHANAN DALAM KAMPANYE PILPRES 2009

Bulan Mei 2009 lalu, ketika saya sakit dan menginap di rumah sakit selama empat hari, pesawat Hercules milik TNI – AU jatuh di Magetan, Jawa Timur yang menewaskan sekitar 100 orang. Setelah itu, dua pesawat heli militer menyusul jatuh. Pesawat heli MBB milik TNI – AD jatuh di Cianjur, lalu heli Super Puma milik TNI – AU jatuh di Lanud Atang Sanjaya. Keduanya terjadi minggu lalu, saat latihan. Sekali lagi, jatuh dalam latihan, bukan jatuh dalam operasi militer. Menyedihkan dan memalukan.

Semua pejabat militer dari yang paling rendah sampai yang paling tinggi, Panglima TNI, dan juga Menteri Pertahanan, tidak mengatakan apa penyebab sebenarnya. Ada yang mengatakan faktor cuaca, ada yang menyebutkan kesalahan manusia (human error). Semua mengakui usia pesawat yang sudah tua, tetapi tidak menyalahkan kurang dan minimnya anggaran pertahanan, termasuk anggaran untuk pemeliharaan alat utama sistem persenjataan (alutsista) TNI.

Itu baru tiga kecelakaan terakhir yang belum terlalu jauh dari ingatan kita. Sebelumnya sudah banyak kecelakaan yang melibatkan alutsista TNI. Semuanya bisa disederhanakan. Usia alutsista TNI yang sudah uzur, rata-rata diatas usia 30 tahun, dan kurangnya biaya perawatan, sudah seharusnya diganti. Tetapi kemauan politik Pemerintah termasuk politik anggaran Pemerintah membuat peremajaan mesin-mesin perang tersebut terlambat, sehingga sistem pertahanan Indonesia masuk dalam ruang gawat darurat. Tegasnya, Pemerintah tidak memberikan prioritas pada pembangunan TNI yang professional, kuat dan modern.

Situasi ini bisa kita tarik jauh ke awal periode Orde Baru, ketika Soeharto memulai kekuasaannya. Soeharto, untuk meredam kecemasan Malaysia dan Singapura, mengembangkan kebijakan politik luar negeri yang bertetangga baik. Anggaran militer dialihkan ke sektor ekonomi, pembangunan militer direm, dan sebagai kompensasinya, banyak petinggi-petinggi militer mendapat imbalan jabatan-jabatan politik di luar militer, yang dikenal luas sebagai dwifungsi ABRI. Politik pertahanan Pemerintah saat itu adalah membangun tentara yang kecil, efektif dan efisien, dengan ujung tombak pada TNI – AD.

Namun kemudian situasi politik regional berubah, ironisnya, politik luar negeri dan politik pertahanan Indonesia tidak berubah, sekalipun Soeharto sudah jatuh pada bulan Mei 1998. Karena tuntutan reformasi, maka ABRI dikembalikan menjadi TNI dan Polri, serta harus meninggalakn gelanggang politik. Sebagai imbalannya, Pemerintah menjamin akan memberikan anggaran yang cukup bagi TNI untuk dapat mentransformasikan dirinya menjadi tentara yang professional, kuat dan modern. Nyatanya, sampai saat ini hal tersebut tidak dapat direalisasikan.

Pemerintah selalu beralasan bahwa ada sektor pembangunan yang lebih penting dan diprioritaskan, sehingga anggaran pembangunan militer selalu menjadi pilihan pertama untuk disunat, karena Pemerintah kita tetap menjalankan politik luar negeri bertetangga baik sesuai dengan spirit ASEAN.

Akibatnya jelas, pembangunan militer menjadi tertinggal jauh dibandingkan dengan negara-negara tetangga. Banyak ahli yang menaruh perhatian pada masalah ini menggungkapkan kekhawatirannya, karena anggaran pertahanan Indonesia merupakan yang paling rendah di Asia Tenggara, sementara cakupan wilayah laut, udara dan darat yang harus dicovernya adalah paling luas.

Kasus Ambalat hanya merupakan akibat saja dari melemahnya kemampuan dan kesiapan TNI dalam menjaga wialayah NKRI. Malaysia pasti tahu betul bahwa kemampuan alutsista TNI yang ditempatkan di Ambalat tidak ada apa-apanya dibandingkan milik mereka yang lebih muda tahun pembuatannya dan lebih canggih sistem persenjataannya. Makanya mereka berani memprovokasi Indonesia, sementara Indonesia hanya bisa melayangkan protes. Tidak ada kekuatan diplomasi yang tidak didukung oleh kekuatan militer yang memadai. Dan Indonesia merasakan hal itu, dilecehkan negeri jiran.

Kasus Ambalat bukan satu-satunya. Masih ingat, ‘kan dengan perjanjian kerjasama Indonesia – Singapura yang ditandatangani beberapa tahun lalu di Denpasar? Indonesia butuh uang, Singapura butuh lahan untuk latihan pesawat-pesawat tempurnya. Untung saja perjanjian itu macet dan gagal, karena dikaitkan dengan perjanjian ekstradisi yang juga merugikan Indonesia.

Banyak contoh kecil lainnya yang bisa ditambahkan. Perlahan tapi pasti, kontrol atas Selat Malaka pun menjadi lemah, dan Singapura menjadi lebih menentukan dibandingkan Indonesia. Pencurian ikan di wilayah perairan Indonesia oleh nelayan-nelayan dari negeri-negeri tetangga seperti Thailand, Vietnam, Malaysia, Filipina bahkan Taiwan, jelas sekali menunjukkan lubang-lubang kelemahan dalam sistem radar pertahanan laut Indonesia.

Ketertinggalan Indonesia juga diperparah oleh paradigma berpikir para perwira tinggi TNI, yang masih menempatkan TNI – AD sebagai ujung tombak dari sistem pertahanan kita. Seorang jenderal bintang empat yang pernah menjabat sebagai KSAD pernah mengatakan, biarkan saja musuh menyerang dan akan digempur habis-habisan di daratan Indonesia. Benar-benar suatu kesalahan yang konyol punya jenderal bintang empat seperti itu.

Di era post modern ini, keunggulan udara dan atau maritime merupakan suatu keharusan yang mutlak dalam membangun tentara yang professional, kuat dan modern. Memang biaya untuk itu sangatlah besar, karena angkatan laut dan udara full technology, tetapi ini merupakan konsekuensi kita sebagai negara maritime.

Nah, di masa kampanye pilpres 2009 ini, dari tiga pasangan calon, ada tiga jenderal yang semuanya dari angkatan darat. Dan ketiganya mewakili cara pandang militer Indonesia yang sudah ketinggalan zaman, yang berorientasi pada pertahanan darat, namun mengabaikan peretahan udara dan laut. Menurut pandangan saya, ketiganya sangat menyedihkan dalam hal wawasan pertahanan. Ketiganya tidak punya wawasan pertahanan yang komprehensif bagaimana seharusnya membangun pertahanan Indonesia. Memang satu calon presiden, yang sedikit lebih punya visi dan menaruh perhatian pada masalah ini, walau seperti slogannya, dia ingin membereskan masalah pertahanan ini lebih cepat lebih baik.

Tetapi apakah mungkin membangun militer yang profesional, kuat dan modern hanya dalam tiga bulan atau seratus hari? Omong kosong ini membuat saya tertawa terpingkal-pingkal. *** (UHK, 17 - 18 Juni 2009)

Labels:

Tuesday, June 09, 2009

Sakit dan Aspek Spiritual dari Sakit

SAKIT DAN ASPEK SPIRITUAL DARI SAKIT

Tanpa sengaja, bulan Mei 2009 kemarin saya harus menginap empat hari tiga malam di RS Bhakti Yudha, Depok, dari hari Senin, 18 Mei sampai Kamis, 21 Mei, karena kena demam berdarah (DB). Sebelumnya, demam tinggi terlebih dahulu selama empat hari dari Kamis, 14 Mei, memaksa saya istirahat di rumah. Baru kemudian setelah tidak tahan dengan panas tinggi empat hari dan masukan cairan yang terus berkurang, selaput lidah menjadi kuning tebal dan bibir pecah-pecah, saya menyerah untuk masuk rumah sakit. Ternyata kena demam berdarah.

Tetapi ngomong-ngomong, apa sih ‘sakit’ itu?

Sakit, kalau mengikuti definisi WHO yang panjang itu, saya tidak terlalu ingat walau sudah beberapa kali mendengrnya. Tetapi kalau mengikuti definisi Bali Usada Meditasi, kira-kira adalah tidak harmonisnya antara tubuh, pikiran dan jiwa. Dan kalau mengikuti difinisi akupunktur, sangat mudah mengikutinya, yaitu hilangnya keseimbangan yin dan yang.

Sehat adalah kondisi dimana terdapat kesimbangan yin dan yang. Jadi kalau tidak ada keseimbangan yin dan yang, artinya kita sedang dalam keadaan sakit. Mungkin kita tidak merasakannya, sehingga tidak merasa perlu ke dokter atau rumah sakit. Baru setelah parah, demam tinggi beberapa hari, ambruk dan terkapar di tempat tidur, kita merasa perlu mencari bantuan atau pertolongan dokter.

Tentang sakit ini, saya berani katakan, tidak ada satu orang pun yang ingin sakit. Tetapi kalau sakit datang berkunjung dan menginap di tubuh kita, mau tidak mau, kita harus beristirahat, mungkin minimal bedrest. Tetapi bisa saja sakit itu berlanjut dan menjadi parah.

Kalau mengikuti kedokteran barat yang mekanis, sakit dilihat sebagai gangguan yang sifatnya fisik. Namun saya juga mencoba melihatnya dari aspek penyembuhan alternatif. Dalam berbagai teori penyembuhan alternatif, sakit bukanlah sekadar kerusakan mesin saja, tetapi juga melibatkan aspek spiritual. Manusia bukan cuma sekadar tubuh yang berdarah-daging saja, tetapi juga meliputi aspek pikiran dan jiwa. Sakit bisa datang dari unsur-unsur pikiran dan kejiwaan.

Dalam teori lima unsur akupunktur, jelas perannya emosi atau yang resminya disebut penyebab penyakit dalam (PPD). Yaitu marah yang berhubungan dengan Liver/Gall Bladder, terkejut/gembira dengan Heart/Small Intestine, berpikir/rindu dengan Spleen/Stomach, kuatir/sedih dengan Lung/Large Intestine, dan takut dengan Kidney/Bladder. Segala yang berlebihan, akan mengganggu meridian-meridian dan organ-organ tersebut, tinggal seberapa jauh gangguan itu terjadi. Apakah yin dan yang, apakah letaknya masih di luar atau sudah di dalam, apakah jenisnya dingin atau panas, dan apakah sifatnya lemah atau kuat.

Sementara itu saya juga percaya bahwa ada penyakit karena faktor spiritual, yang mungkin jarang atau tidak banyak diketahui, seperti misalnya penyakit karma, akibat dari karma di kehidupan-kehidupan kita yang lampau. Penyakit bisa muncul tiba-tiba, mendadak tetapi bisa juga lama menetap tetapi sulit disembuhkan. Anda percaya? Hahaha…

Setelah di rumah sakit, saya pun bisa melihat aspek yang lain dari sakit. Yah, mungkin Tuhan sedang berbaik hati pada saya, sehingga memberikan sakit untuk beberapa hari. Dengan demikian, saya bisa ‘cuti’, alias terbebas dari rutinitas pekerjaan sehari-hari, walau harus tidur di rumah sakit. Maklum, sebagai pekerja outsourcing, saya tidak punya cuti. Hehehe…

Di saat-saat seperti itulah, ketika sakit, adalah kesempatan yang baik bagi kita untuk introspeksi melihat ke dalam diri sendiri. Mungkin saja selama ini, urusan kantor dan pekerjaan, urusan mencari uang, sudah terlalu banyak menyita energi kita. Kalau tidak dapat cuti, ya tubuh sendirilah yang akan memintanya dengan sakit itu. *** (UHK, Rabu, 10 Juni 2009)

Labels:

Thursday, April 30, 2009

Anomali Politik dan Koalisi Tanpa Etika

ANOMALI POLITIK DAN KOALISI TANPA ETIKA

Pemilu 9 April 2009 telah berlalu, dan hasilnya kita sudah tahu melalui quick count yang menempatkan Partai Demokrat sebagai pemenang, sementara Golkar dan PDIP ada di urutan kedua dan ketiga. Kenapa quick count? Ya, karena perhitungan resmi dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) sampai tulisan ini dibuat, belum keluar, padahal dana untuk pengadaan perangkat IT-nya milyaran rupiah. Hehehe…

Pasca pemilu, yang kita lihat adalah manuver-manuver para politisi untuk membentuk koalisi menghadapi pemilihan presiden (pilpres) 9 Juli 2009 yang akan datang. Koalisi? Iyalah, ini memang fenomena aneh dan mungkin hanya ada di Indonesia saja.

Saya bukan ahli hukum tata negara, apalagi konstitusi, tetapi dari beberapa wawancara saya untuk majalah tempat saya kerja dengan para pakar politik, saya sepakat dengan mereka bahwa ini anomali dalam dunia ilmu politik.

Konstitusi kita, UUD 1945, mengamanatkan bahwa sistem pemerintahan kita adalah presidensil, dimana presiden menjadi kepala negara sekaligus kepala pemerintahan. Namun sejak reformasi bergulir, tepatnya pasca pemilu 1999, kita akrab dengan istilah ‘koalisi’, dengan berbagai judul dan penamaan yang memberikan kesan bahwa negara dan bangsa ini sedang ada di tepi jurang kehancuran dan perlu diselamatkan dari para bajak laut dan perompak.

Koalisi, dalam pemahaman saya, sebenarnya hanya ada di dalam sistem pemerintahan parlementer. Di dalam sistem itu, ketua partai pemenang pemilu menjadi perdana menteri. Atau kalau suaranya masih belum cukup, perlu didukung sejumlah partai untuk menjadi perdana menteri. Jadi bisa juga ketua partai minoritas menjadi perdana menteri, jika ia mampu menggalang dukungan untuk meraih mayoritas suara di parlemen.

Itulah yang terjadi di Indonesia. Hasil pemilu atau pemilihan legislative tidak menghasilkan partai mayoritas, sementara untuk masuk dalam pilpres, peraturan undang-undang – yang dibuat dengan wawasan jangka pendek per 5 tahun - menentukan hanya partai yang meraih suara 20 % atau koalisi yang menghimpun 25%, boleh mengajukan calon presiden dan wakil presiden.

Akibatnya yang terjadi adalah politik dagang sapi yang berwawasan jangka pendek dan mengorbankan kepentingan rakyat yang lebih luas. Tidak ada satu partai pun yang berani mencalonkan paket presiden dan calon wakil presidennya dari satu partai, termasuk partai yang meraih suara terbanyak. Pilihannya, ya koalisi itu yang sebenarnya sangat parlementer. Sangat menggelikan sekali.

Kerancuan sistem pemerintahan kita memang sudah dimulai dari saat Republik Indonesia ini masih balita, November 1945. Itu terjadi ketika Sutan Sjahrir melakukan silent coup (kudeta diam-diam) dengan menendang Soekarno dan Hatta ke atas, dan menjadikan dirinya sebagai perdana menteri, yang pertama untuk Republik Indonesia. Alasannya, karena Soekarno dan Hatta adalah kolaborator Jepang, sementara Sekutu hanya ingin berunding dengan orang yang bersih dari Jepang.

Hal itu berlanjut sampai perang kemerdekaan berakhir dan Indonesia menjelma sebagai negara bagian Republik Indonesia Serikat bentukan Belanda. Ketika RIS dibubarkan, dan RI yang berkedudukan di Jogjakarta dipulihkan, jabatan perdana menteri pun tetap ada, hingga periode akhir dari kekuasaan Soekarno. Justru ketika Soeharto berkuasa, ia meniadakan jabatan perdana menteri itu, dan menegakkan sistem presidensil yang kuat, dimana semua kekuasaan ada dalam genggamannya.

Sejarah Indonesia memang penuh dengan eksperimen politik, yang memberikan tempat luas pada para petualang politik untuk pamer diri dan unjuk gigi, dibungkus dengan slogan dan jargon yang memberikan kesan bahwa mereka adalah penyelamat, seperti ksatria-ksatria abad pertengahan. Tidak salah kalau ide-ide mesianistik seperti Ratu Adil, Imam Mahdi dan Satria Piningit selalu mendapat tempat.

Bayangkan, bagaimana seorang ketua partai yang cuma meraih tidak sampai 4% suara, bisa dengan pede menggalang koalisi untuk mendukung pencalonan dirinya sebagai presiden? Sungguh tidak masuk akal sehat. Kalau dia menang, ya mungkin memang nasibnya bagus. Kalau dia kalah, ya dia hanya akan menjadi catatan kaki dalam sejarah.

Akibat lebih jauh, bisa kita lihat sekarang di depan mata. Kabinet menjadi terbelah. Presiden dan Wakil Presiden yang berkuasa (incumbent) mungkin akan bertarung dalam pemilihan presiden. Belum lagi partai-partai yang ada di dalam kabinet juga punya agenda sendiri-sendiri, tergantung ke arah mana angin berhembus. Dan semua para calon itu selalu mengatakan bahwa mereka tidak punya ambisi untuk menjadi presiden.

Benar-benar sebuah anomali politik, terutama koalisi-koalisi yang sedang dibangun untuk pilpres mendatang. Koalisi tanpa etika. Mungkin ini hanya salah satu sinetron Indonesia saja, tanpa skenario dan hanya mengejar jam tayang. Kebetulan, yang satu ini bisa tayang di semua stasiun televisi dan media cetak nasional. *** (UHK, 30 April 2009)

Labels:

Sunday, April 26, 2009

Belajar Akupunktur, Membangun Puzzle

BELAJAR AKUPUNKTUR, MEMBANGUN PUZZLE

Akupunktur? Ya, banyak yang mengenal akupunktur dengan nama tusuk jarum. Akupunktur hanya salah satu bentuk pengobatan atau penyembuhan alternatif yang berkembang belakangan ini, sebagai alternatif atau pelengkap dari kedokteran barat (baca : konvensional) yang kita kenal.

Akupunktur bisa dilihat sebagai suatu bentuk penyembuhan yang berdiri sendiri, tetapi bisa juga dilihat sebagai bagian dari traditional Chinese medicine (TCM). Akupunktur sudah ada – dalam bentuk yang awal - sejak 3000 tahun sebelum masehi. Jadi jauh lebih tua dibandingkan dengan kedokteran barat. Atau mungkin seusia dengan pengobatan ayurveda dan yoga dari India.

Orang melihat pasien ditusuk tubuhnya dengan jarum-jarum dan sembuh. Tetapi orang banyak yang tidak paham bagaimana proses akupunktur bekerja dan menyembuhkan pasien. Dan yang lebih jauh lagi, ternyata belajar akupunktur jauh lebih sulit daripada yang terlihat atau yang diperkirakan. Bahkan dokter-dokter yang belajar akupunktur pun belum tentu lulus dari ujian lokal dan ujian komptensi nasional. Sebabnya, teori-teori akupunktur berbeda dengan teori kedokteran barat. Jadi dalam belajar akupunktur, dokter sama saja dengan peserta lain yang datang dari kalangan awam.

Pemahaman ini mulai saya dapat karena saya sendiri sedang belajar akupunktur, sebagai suatu bidang keahlian penyembuhan alternatif yang terukur dan dapat dipertanggung jawabkan. Keinginan saya tidak muluk, hanya ingin menjadikan akupunktur sebagai suatu profesi untuk bekeerja mandiri. Soalnya capai kerja di tempat sekarang, tidak ada penghargaan dan tidak ada pengembangan.

Belajar akupunktur berarti harus banyak dan kuat menghafal berbagai teori. Mulai dari teori Yin Yang, teori Lima Unsur (Wuxing), teori fenomena organ (Cang Siang), teori Chi dan cairan-cairan tubuh, teori meridian (ada 12 meridian utama plus 2 meridian istimewa yang wajib dikuasai) beserta perjalanannya dari awal hingga akhir, titik-titik akupunktur (sejumlah 361 titik, masih ditambah dengan titik-titik yang baru ditemukan), delapan dasar diagnosis, empat cara pemeriksaan, penggolongan sindrom, dll., dll. Fuih! Berat!!!

Begitu banyak teori yang harus dihafal, semua seolah berebut untuk masuk dalam ingatan, seperti hendak masuk ke dalam mulut botol. Padahal itu baru hanya sekadar menghafal dan mengingat, belum melihat logika dibalik teori-teori tersebut dan menghubungkannya satu sama lain.

Ketika sesi titik-titik akupunktur, saya merasa jenuh, bosan dan capai. Saya pikir lebih mudah belajar chikung, saudara akupunktur dalam rumpun TCM. Tidak perlu paham teorinya yang rumit, yang penting latihan setiap hari. Ternyata akupunktur tidak seperti itu.

Sejak tahun 1996, ketika saya memulai petualangan saya dengan belajar penyembuhan prana, latihan yoga, reiki, meditasi, chikung, saya belum menemukan bentuk peneyembuhan yang sedemikian rumit dan berat dalam proses belajarnya. Bentuk-bentuk penyembuhan ini hanya menuntut pemahaman dan latihan rutin setiap hari, setengah jam atau satu jam. Beda dengan akupunktur yang memakan waktu enam bulan bahkan lebih. Program yang saya ikuti saat ini rencanya sembilan bulan, sampai Oktober 2009. Dan kewajiban untuk ujian lokal dan ujian kompetensi nasional, tanpa ada jaminan akan lulus.

Tetapi okelah, semua sudah saya putuskan. Akupunktur harus jalan terus, lulus atau tidak lulus. Bagi saya akupunktur seperti membangun sebuah puzzle raksasa yang dimulai dari empat cara pemeriksaan, sesi yang saat ini sedang saja jalani. Di bagian ini, akupunktur kembali menjadi menarik untuk saya, karena saya mulai bisa melihat apa yang pertama dikerjakan seorang akupunkturis ketika menangani pasiennya. Setelah itu, saya harus mencari potongan-potongan puzzle lainnya untuk direkonstruksi, sehingga bisa membuat diagnosa apakah seseorang sehat atau sakit berdasarkan teori-teori akupunktur.

Dan tentu saja, saya harus kembali ke motivasi awal, untuk apa saya belajar akupunktur. Tanpa motivasi yang kuat dan utuh, mungkin memang akan gagal. Tetapi dengan motivasi yang kuat dan utuh, saya yakin saya bisa melewati ini. Bosan kerja untuk orang lain. Kalau bisa bekerja mandiri untuk diri sendiri, kenapa tidak?

Barangkali disini ujian yang sesungguhnya. Bukan hanya dalam akupunktur saja, tetapi juga dalam semua bidang kehidupan. *** (UHK, 27 April 2009)

Labels:

Thursday, April 02, 2009

Percakapan Dengan Yin Yang

PERCAKAPAN DENGAN YIN YANG

Aku menatap diagram Tai Chi di depanku.
Dan memikirkan bagaimana cara memahaminya,
ketika tiba-tiba ia berbicara padaku.

“Akulah Yin, si hitam dengan titik putih sebagai mata di kepalaku,”
kata Yin memperkenalkan diri.

“Dan akulah Yang, si putih dengan titik hitam sebagai mata di kepalaku,”
kata Yang memperkenalkan diri juga.

“Kalian bisa bicara?”
kataku bertanya setengah tak percaya.

“Ya!” kata Yin dan Yang bersama-sama.
“Kau ingin tahu lebih jauh tentang kami?”

“Ceritakanlah tentang diri kalian.
Aku akan mendengarkan.”

“Di alam semesta, aku adalah malam, rembulan, gelap,
bawah, dingin, air, barat dan utara,”
tutur Yin.

“Sementara aku adalah siang, matahari, terang,
atas, panas, api, timur dan selatan,”
sahut Yang.

“Di tubuh manusia, aku adalah perempuan, dada-perut,
tubuh bagian bawah, fisik, permukaan tubuh bagian dalam, cairan yang keruh”
ujar Yin.

“Sedangkan aku adalah lelaki, punggung-bokong,
tubuh bagian atas, psikis, permukaan tubuh bagian luar, cairan yang jernih,”
balas Yang.

“Sebagai organ, aku adalah cang, yaitu organ-organ padat,
seperti hati, jantung (dan selaput jantung), limpa, paru-paru dan ginjal,”
tambah Yin.

“Dan aku adalah fu, yaitu organ-organ berongga,
seperti kandung empedu, usus kecil (dan tiga pemanas), lambung, usus besar
dan kandung kemih,”
imbuh Yang.

“Jika tubuh manusia sakit, maka aku adalah kronis, tenang, lama,
dingin, lembab dan regresif,” lanjut Yin.

“Ya, jika sakit, lihatlah aku sebagai akut, gelisah, baru,
panas, kering dan progresif,” lanjut Yang.

“Untuk menegakkan diagnosa, lihatlah aku, Yin,
pada dalam, dingin dan lemah,”
jelas Yin.

“Maka aku, Yang,
ada pada luar, panas dan kuat,”
terang Yang.

“Rupanya kalian hadir dari tataran makrokosmos hingga mikrokosmos.
Dari jagad besar hingga jagad cilik.”

“Betul. Lihatlah kami sebagai suatu diagram yang utuh
dan berputar ke arah kanan, bukan ke arah kiri.
Banyak yang terbalik melihat kami.
Kami dinamis, saling tarik-menarik, saling melengkapi,
saling mendasari untuk mencapai keseimbangan.
Tidak ada yang murni, dan tidak ada yang mutlak,”
kata Yin dan Yang bersama-sama.
“Kami ada di alam semesta ini hingga di dalam tubuh manusia seperti kau.”

“Apakah ada terjemahan yang pas untuk nama kalian, Yin dan Yang?
Bagaimana dengan pasif dan aktif?
Atau negatif dan positif?”

“Tidak ada terjemahan yang sepadan untuk kami dalam bahasa apapun.
Pergunakan saja Yin dan Yang seperti aslinya,”
jawab Yin dan Yang bersamaan.

“Oke, Yin dan Yang.”

“Ya, dan kau bisa membaca kami sebagai sebuah frase,
di dalam Yin ada Yang, di dalam Yang ada Yin.”

Jakarta, 23 – 26 Februari 2009

Urip Herdiman K.

Labels:

Puisi yang Ditemukan Di Dalam Taksi, Malam Hari

PUISI YANG DITEMUKAN DI DALAM TAKSI,
MALAM HARI

detak jantung berhenti
detik jam berlari

: bibir pelangi

Jakarta, 18 – 19 Februari 2009

Urip Herdiman K.

Labels:

Brawn GP dan Semangat Olahraga

BRAWN GP DAN SEMANGAT OLAHRAGA

Brawn GP, yang dibangun Ross Brawn dari puing-puing Honda Racing Team, melakukan debut yang sangat gemilang mengawali musim kompetisi balap Formula I, dengan menjuarai GP Australia yang berlangsung di Sirkuit Albert Park, Melbourne, pada Minggu, 29 Maret 2009. Dua pembalapnya, Jenson Button dan Rubens Barrichello, menempati podium 1 dan 2, setelah sebelumnya juga merebut pole position pada babak kualifikasi.

Media-media menyambutnya bak kemenangan Cinderella. Saya melihatnya sebagai kemenangan semangat olahraga sejati, yang mengatasi segala-galanya, termasuk fanatisme pada tim.

Secara pribadi, saya pendukung tim McLaren sejak saya mengikuti berita-berita Formula 1, mungkin hampir 25 tahun lalu, bersamaan dengan terbitnya tabloid Bola. Dan di sepakbola, saya mendukung Everton FC di Liga Inggris, yang sempat menguasai puncak Liga Inggris periode 1984/1985 dan 1986/1987. Hal itu terbawa sampai sekarang.

Saya tetap mengikuti perkembangan kedua tim tersebut, jatuh bangunnya McLaren di Formula 1 dan Everton di Liga Inggris. Minimal, saya selalu ingin tahu hasil-hasil yang mereka capai setelah suatu race atau setelah pertandingan liga di akhir pekan. Menang, saya senang. Kalah, ya tidak apa-apa.

Tetapi zaman juga berubah. Selalu ada tim yang dominan, dan selalu ada tim yang menjadi penantang, atau sekadar cuma kuda hitam. Dan saya pun menikmatinya. Mendukung tim favorit saya secara tradisional, namun juga suka dengan mnculnya tim-tim baru yang punya potensi.

Bayangkan ketika Ferrari mendominasi balap Formula I selama 5 tahun pada awal milenium ini. Sangat membosankan. Seperti penonton yang lain di belahan dunia manapun, saya meninggalkan televisi. Tanpa perlu menonton teve, saya bisa menebak siapa juaranya. Michael Schumacher. Juga sangat membosankan ketika Manchester United selalu juara liga. Makanya saya pun suka dengan Arsenal ketika bisa mengganggu dominasi MU. Begitu pula ketika Chelsea juara dua kali berturut-turut.


Di satu sisi, saya punya tim favorit yang selalu saya dukung, seperti McLaren dan Everton. Tetapi di lain sisi, saya juga harus mengakui kalau ada tim lain yang kuat dan layak menyandang titel juara. Namun juga saya tidak suka dengan tim yang terlalu kuat dan terus-menerus mendominasi, karena mengakibatkan kebosanan.

Olahraga merupakan suatu arena untuk melihat munculnya juara-juara baru secara fair. Juara lama berjuang mempertahankan gelarnya, tim lain mencoba merebut gelar dari juara bertahan. Kemapanan membuat kompetisi jadi tidak menarik untuk ditonton, apalagi diikuti sampai akhir. Kejuatan tim baru, seperti Brawn GP di Formula I tahun 2009 ini, Hull City di Premier League dan Hoffenheim di Bundesliga, sangatlah menyegarkan.

Saya berharap selalu ada tim yang bisa menggangu, dan bahkan mematahkan dominasi tim juara yang terlalu kuat dan terlalu lama bertahta. Jika tidak ada kejuatan, buat apalagi menonton teve dan mengorbankan acara lain, kalau sudah tahu siapa yang menang dan siapa yang juara? Saya pikir, demikianlah semangat olahraga sejati. Harus ada penantang yang dapat memecahkan kemapanan, menghasilkan kejutan yang tidak cuma sekali, dan menjadi juara di akhir musim. *** (UHK, Selasa, 31 Maret 2009)

Labels:

Friday, February 06, 2009

Betis Ken Dedes

BETIS KEN DEDES

Ken Dedes turun dengan hati-hati dari kereta kencana,
sedikit mengangkat kainnya,
dan menginjakkan kaki ke dingklik di bawah.
Melangkah dengan anggun
kaki kanan pertama
kaki kiri kemudian.

Pagi yang ceria
ketika matahari tersenyum hangat
dan angin bertiup nakal
menyingkap ujung kain
memperlihatkan betis sang permaisuri

Aih…

Betis yang indah bak puting padi,
betis yang memancarkan sinar;
betis seorang wanita nareswari.

Tanpa sengaja seorang pengawal utama melihat betis kiri Ken Dedes.
Membuatnya terkejut, terpaku sesaat dan terpesona.
Kelelakiannya bangkit mengaum bagai singa.

Berhari-hari Ken Arok, pengawal itu,
tidak bisa tidur,
tak bisa memicingkan matanya.
Selalu terbayang-bayang dengan apa yang dilihatnya pagi itu,
di Taman Baboji.

Dan berhari-hari kemudian
betis itu masih ada di dalam matanya
melekat dalam pikirannya.

Tumbuh menjelma sebilah keris sakti yang haus darah,
menjadi sejarah.

Jakarta, 3 – 4 Februari 2009

Urip Herdiman K

Labels:

Pertamina dan Stigma Negatif (Revisi)

PERTAMINA DAN STIGMA NEGATIF
(Revisi)

Stigma, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Ketiga, diartikan (1) ciri negatif yg menempel pd pribadi seseorang krn pengaruh lingkungannya; (2) tanda.

Keluarga tapol yang terkait Peristiwa G.30.S/PKI terkena stigma ‘kiri’. Aktivis Petisi 50 terkena stigma ‘pembangkang’. Megawati terkena stigma ‘pendiam’. Amien Rais punya stigma ‘plin-plan’. Tim nasional PSSI tidak bisa lepas dari stigma ‘kalah melulu’. Dan lain-lain. Termasuk BUMN terkena stigma ‘kinerjanya buruk’. Di sini, stigma menjadi semacam kutukan yang diterima turun-temurun, dari generasi ke generasi. Dan sulit untuk menolak atau menghindarinya, apalagi menghapusnya. Mungkin sampai terbawa ke dalam mimpi.

Minggu malam, 18 Januari 2009 sekitar pukul 21.30, Depot Plumpang di Jakarta Utara, milik Pertamina, meledak dan mengakibatkan kebakaran dahsyat sepanjang malam. Ketinggian api sampai 100 meter, bisa dilihat dari jarak 20 Km dari lokasi, sementara suasana panas karena kobaran api terasa sampai sejauh sekitar 1 Km dari pusat api.

Sebelumnya, kita hiruk pikuk dengan kasus minyak Zatapi. Belum sampai sebulan yang lalu, kita dipusingkan dengan (berita-berita) ‘hilangnya’ Elpiji (LPG) dari pasaran selama beberapa hari. Baru pulih dari demam LPG, disusul dengan krisis BBM di sekitar pergantian tahun 2008 menuju 2009. Krisis BBM reda, lalu tiba-tiba muncul kasus ledakan Depot Plumpang.

Ada apa dengan Pertamina? Kenapa segala sesuatu yang terjadi di BUMN itu selalu menarik perhatian orang?

Pertamina tentu saja baik-baik. Hehehe… Yang tidak baik adalah orang yang selalu ingin campur tangan urusan intern Pertamina, atau selalu mencari keuntungan dari semua persoalan yang dihadapi Pertamina.

Dalam banyak hal yang berkaitan dengan energi minyak dan gas bumi di negara ini, Pertamina selalu berada dalam keadaan serba salah. Hal ini bisa terjadi karena tidak banyak yang menyadari posisi hukum Pertamina.

Pertamina, yang didirikan pada 10 Desember 1957, pernah berkembang menjadi konglomerasi BUMN pertama di Indonesia, dibawah Ibnu Sutowo sampai kejatuhannya tahun 1975 karena terbelit skandal keuangan ratusan juta dollar tahun itu. Pertamina saat itu, sesuai dengan UU No. 8 tahun 1971 tentang Migas (ini satu-satunya undang-undang tentang badan usaha milik negara) mengemban dua tugas utama. Pertama, Pertamina sebagai regulator dimana semua kontraktor production sharing (KPS) tunduk pada Pertamina. Dan kedua, Pertamina sebagai player. Namun di era ini, peran Pertamina sebagai regulator yang lebih menonjol. Bahkan di tahun 1980-an, selama beberapa tahun APBN Indonesia ditulangpunggungi hasil dari ekspor minyak dan gas bumi. Tidak salah, karena saat itu produksi minyak Indonesia sedang top mendekati 2 juta barrel dengan jumlah penduduk masih di sekitar angkat 130 – 140 juta jiwa.

Inilah yang membuat orang melihat Pertamina dilihat sebagai agent of governement, tidak lebih dari kepanjangan tangan Pemerintah. Pertamina masuk ke semua sektor, seperti perhotelan, perumahan, pertanian, pupuk, penerbangan, dan lain-lain. Semua datang ke Pertamina untuk minta duit, termasuk Pemerintah. Sehingga Ibnu pun sering disebut sebagai presiden bayangan.


Namun pada saat yang sama, terjadilah pembusukan itu. Sehingga image Pertamina sebagai sarang korupsi mulai tumbuh dari era ini. Pertamina tidak perlu aktif berbisnis, semua datang ke Pertamina untuk berbisnis. Tidak ada satupun konglomerat Indonesia yang mulai tumbuh di tahun 1970-an hingga 1990-an, eranya Soeharto, yang tidak karena uang minyak Pertamina. Tetapi dari era inilah, BBM mulai disubsidi Pemerintah, yang sebenarnya merupakan politik Soeharto untuk membungkam masyarakat.

Zaman berubah, Soeharto jatuh, undang-undang pun berganti. Pertamina tunduk pada UU No. 22 tahun 2001. Peran Pertamina sebagai regulator diserahkan pada BP Migas (Badan Pelaksana Migas) di sektor hulu, yang embrionya adalah BPPKA, sebuah badan di dalam Pertamina untuk mengatur kontraktor production sharing (KPS). Sementara di sektor hilir, dibentuk BPH Migas (Badan Pengatur Hilir Migas). Dan Pertamina dikembalikan sebagai entitas bisnis yang harus mencari profit. Sebagai entitas bisnis, Pertamina juga tunduk pada UU tentang Perseroan Terbatas. Sehingga pada 2003, Pertamina pun berdiri sebagai badan hukum dengan nama PT Pertamina (Persero).

Namun, sebagai BUMN, Pertamina tetap harus mengemban tugas-tugas yang diberikan Pemerintah, yang dikenal sebagai public service obligation (PSO). Masyarakat mengenalnya sebagai BBM Bersubsidi, yaitu Premium, Kerosene (minyak tanah) dan Solar (boleh disingkat PKS tetapi bukan partai, atau PSK tetapi bukan pelacur). Dengan kata lain, tidak banyak yang berubah.

Posisi inilah yang tidak disadari masyarakat. Mereka terlena dengan jargon bahwa Indonesia negeri yang kaya, kaya sumber daya alam, kaya minyak dan gas. Tetapi mereka lupa bahwa jumlah penduduk bertambah lebih cepat, sementara jumlah produksi menurun lebih cepat lagi. (Dan jangan lupa, negeri yang kaya minyak dan gas, anehnya, terkena semacam kutukan. Pemerintahannya yang tidak demokratis, atau masyarakatnya menjadi malas dan tidak mau berpikir, atau jatuh miskin dan terlibat utang luar negeri yang besar)

Semua bisnis yang disubsidi, adalah bisnis yang tidak sehat. Itu dikatakan sendiri oleh Prof. Soebroto, mantan Menteri Pertambangan dan Energi yang flamboyant dengan dasi kupu-kupunya. Contohnya BBM yang bersubsidi, tarif listrik PLN, tarif ekonomi Kereta Api Indonesia, tarif Pelni, dll. Semua adalah bisnis yang tidak sehat secara ekonomis. Perusahaannya tidak sampai collapse atau ambruk, tetapi sering mengalami demam, meriang, batuk dan bersin.

Saya bisa mengerti, tidak sehat karena sebenarnya supply and demand yang riil seringkali tidak didapatkan, dengan berbagai alasan politis atau manipulasi. Ditambah berbagai penyimpangan di lapangan yang sulit dijangkau hukum, termasuk pengoplosan dan penyelundupan BBM ke luar negeri karena adanya disparitas harga. Inilah yang dimanfaatkan para petualang.

Misalnya contoh kasus konversi minyak tanah ke Elpiji 3 Kg. Target semula tahun 2014, maju menjadi 2012, maju lagi menjadi 2010, sampai akhirnya harus selesai tahun 2009 ini. Jelas target program yang dicanangkan Wapres Jusuf Kalla terlalu kental dengan nuansa politisnya. Akibatnya, percepatan pembangunan infrastruktur dan pasokan harus berlomba dengan target politis Sang Wapres memasuki gelanggang Pemilu dan Pilpres 2009.

Dalam beberapa kesempatan, seorang petinggi Pertamina mengatakan bahwa di Indonesia ini, tidak ada sektor kehidupan yang tidak lepas dari (produk) Pertamina, bahkan 24 jam. Mulai dari isi tanki mobil atau motor kita, pelumas yan dipakai, bahan bakar di dapur, lilin, plastik, aspal jalanan, dan masih banyak lagi, lebih dari 100-an, produk turunan yang berasal dari minyak dan gas bumi.

Pertamina berbisnis di bisnis minyak dan gas bumi. Banyak pihak yang ingin menikmati uang hasil minyak ini. Mulai dari anak-anak Presiden Soeharto, kroninya, pensiunan jenderal-jenderal, orang-orang partai politik. Dalam suatu kesempatan wawancara dengan Prof. Dr. Bambang Permadi S. Brodjonegero, Dekan FE-UI saat ini, berkaitan dengan Seminar Mafia Minyak di UI, menyebutkan begitu banyak orang yang tertarik dengan uang minyak ini dan bermain di belakang layar.

Dalam hal PSO, Pemerintah memberikan tugas pada Pertamina, dan Pertamina tidak pernah bisa menolaknya. Ketika terjadi suatu krisis, Pemerintah tidak pernah membela Pertamina, dan Pertamina pun tidak bisa menyalahkan Pemerintah. Karena hitungan bisnis yang riil tidak selalu matching dengan perhitungan politis yang selalu berubah-ubah setiap saat.

Di tengah Pertamina yang terus disorot karena stigma beban warisan KKN yang dipikulnya dan upaya transformasi yang tengah dilakukan, ada sisi lain yang gelap, yang luput dari sorotan masyarakat. Apapun upaya Pertamina memperbaiki citranya, selalu ada cap negatif yang siap ditembakkan bila terjadi sesuatu dengan Pertamina. Dan setelah itu, berbagai isu dan teori muncul beredar, seperti yang bisa kita baca di media massa atau kita dengar dari media elektronik.

Ditambah ini adalah tahun politik, dimana Pemilu dan Pilpres akan digelar. Partai-partai butuh uang banyak untuk kampanye politiknya. Maka jangan heran kalau posisi direksi Pertamina digoyang, yang sebenarnya dibelakang itu adalah pertarungan partai-partai politik untuk menempatkan orangnya. *** (UHK, 19 – 30 Januari 2009)

Labels:

Tuesday, January 27, 2009

Aku Menunggu Hujan

AKU MENUNGGU HUJAN

Aku menunggu hujan. Langit gelap. Awan menggantung di depan pintu. Angin menari-nari di halaman, menggoyang pucuk-pucuk pepohonan.

Aku menunggu hujan. Ramalan cuaca mengatakan puncak musim hujan akan datang pada akhir Januari hingga awal Februari. Hati-hati, kata peramal cuaca, kalau kita akan mengadakan perjalanan. Karena kau tahu, gelombang laut bisa mencapai tinggi lima meter. Cukup untuk menghempaskan kapal yang kau tumpangi. Atau mungkin cuaca buruk akan membahayakan penerbanganmu. Bisa juga mengganggu perjalanan kereta yang kau naiki.

Aku menunggu hujan. Suaranya telah kudengar dari jauh. Samar-samar. Melangkah dengan tegap dan pasti, datang berbaris. Gerimis kecil, rintik-rintik, semakin besar, dan melebat. Dan dewa-dewa bermain dengan cambuk apinya yang membelah langit. Langit menyala penuh kembang api. Membuat hujan turun semakin deras, tanpa bosan, tanpa henti. Hujan turun dengan hati senang dan bahagia.

Aku menunggu hujan. Dari balik kaca jendela, aku melihat pintu yang terbuka lebar. Pintu menuju ingatan yang semakin jauh, ingatan yang terkubur masa silam. Menghadirkan kembali moment-moment yang hilang. Tetapi juga membuka pintu ke masa depan. Imajinasi liar.

Aku menunggu hujan. Datang dan pergi. Gelap dan terang. Hitam dan putih. Malam dan siang. Kiri dan kanan. Timbul dan tenggelam. Basah dan kering. Wanita dan pria. Yoni dan lingga. Fu dan cang. Yin dan Yang.

“Aku tidak suka hujan!” katamu padaku, sedikit berbisik.
“Hujan membuatku repot. Sungguh. Misuh-misuh. ”

“Kenapa? Punya trauma?” balasku bertanya, setengah tak percaya ada orang yang tidak suka hujan.

“Mungkin karena aku dulu tinggal di daerah banjir,”
jawabnya lagi.

Aku menunggu hujan, tetapi aku tidak menunggu banjir. Banjir datang hanya karena kesalahan dan kecerobohan kita saja. Kita yang bebal, kita yang bodoh. Alam yang disalahkan.

Aku menunggu hujan, sepanjang malam dan sepanjang mimpi. Aku menunggu hujan, dan kamu, di sini, kapan pun kau datang. Ada angpao untukmu. Gong xi fa choi!

Jakarta, Rabu, 28, Januari 2009

Urip Herdiman K.

Labels:

Tuesday, January 20, 2009

Pertamina dan Stigma

PERTAMINA DAN STIGMA

Stigma, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Ketiga, diartikan (1) ciri negatif yg menempel pd pribadi seseorang krn pengaruh lingkungannya; (2) tanda.

Keluarga tapol yang terkait Peristiwa G.30.S/PKI terkena stigma ‘kiri’. Aktivis Petisi 50 terkena stigma ‘pembangkang’. Megawati terkena stigma ‘pendiam’. Amien Rais punya stigma ‘plin-plan’. Tim nasional PSSI tidak bisa lepas dari stigma ‘kalah melulu’. Dan lain-lain. Termasuk BUMN terkena stigma ‘kinerjanya buruk’. Di sini, stigma menjadi semacam kutukan yang diterima turun-temurun, dari generasi ke generasi. Dan sulit untuk menolak atau menghindarinya, apalagi menghapusnya. Mungkin sampai terbawa ke dalam mimpi.

Minggu malam, 18 Januari 2009 sekitar pukul 21.30, Depot Plumpang di Jakarta Utara, milik Pertamina, meledak dan mengakibatkan kebakaran dahsyat sepanjang malam. Ketinggian api sampai 100 meter, bisa dilihat dari jarak 20 Km dari lokasi, sementara suasana panas karena kobaran api terasa sampai sejauh sekitar 1 Km dari pusat api.

Sebelumnya, kita hiruk pikuk dengan kasus minyak Zatapi. Belum sampai sebulan yang lalu, kita dipusingkan dengan (berita-berita) ‘hilangnya’ Elpiji (LPG) dari pasaran selama beberapa hari. Baru pulih dari demam LPG, disusul dengan krisis BBM di sekitar pergantian tahun 2008 menuju 2009. Krisis BBM reda, lalu tiba-tiba muncul kasus ledakan Depot Plumpang.

Ada apa dengan Pertamina? Kenapa segala sesuatu yang terjadi di BUMN itu selalu menarik perhatian orang?

Pertamina tentu saja baik-baik. Hehehe… Yang tidak baik adalah orang yang selalu ingin campur tangan urusan intern Pertamina, atau selalu mencari keuntungan dari semua persoalan yang dihadapi Pertamina.

Dalam banyak hal yang berkaitan dengan energi minyak dan gas bumi di negara ini, Pertamina selalu berada dalam keadaan serba salah. Hal ini bisa terjadi karena tidak banyak yang menyadari posisi hukum Pertamina.

Pertamina, yang didirikan pada 10 Desember 1957, pernah berkembang menjadi konglomerasi BUMN pertama di Indonesia, dibawah Ibnu Sutowo sampai kejatuhannya tahun 1975 karena terbelit skandal keuangan ratusan juta dollar tahun itu. Pertamina saat itu, sesuai dengan UU No. 8 tahun 1971 tentang Migas (ini satu-satunya undang-undang tentang badan usaha milik negara) mengemban dua tugas utama. Pertama, Pertamina sebagai regulator dimana semua kontraktor production sharing (KPS) tunduk pada Pertamina. Dan kedua, Pertamina sebagai player. Namun di era ini, peran Pertamina sebagai regulator yang lebih menonjol. Bahkan di tahun 1980-an, selama beberapa tahun APBN Indonesia ditulangpunggungi hasil dari ekspor minyak dan gas bumi. Tidak salah, karena saat itu produksi minyak Indonesia sedang top mendekati 2 juta barrel dengan jumlah penduduk masih di sekitar angkat 130 – 140 juta jiwa.

Inilah yang membuat orang melihat Pertamina dilihat sebagai agent of governement, tidak lebih dari kepanjangan tangan Pemerintah. Pertamina masuk ke semua sektor, seperti perhotelan, perumahan, pertanian, pupuk, penerbangan, dan lain-lain. Semua datang ke Pertamina untuk minta duit, termasuk Pemerintah. Sehingga Ibnu pun sering disebut sebagai presiden bayangan.


Namun pada saat yang sama, terjadilah pembusukan itu. Sehingga image Pertamina sebagai sarang korupsi mulai tumbuh dari era ini. Pertamina tidak perlu aktif berbisnis, semua datang ke Pertamina untuk berbisnis. Tidak ada satupun konglomerat Indonesia yang mulai tumbuh di tahun 1970-an hingga 1990-an, eranya Soeharto, yang tidak karena uang minyak Pertamina. Tetapi dari era inilah, BBM mulai disubsidi Pemerintah, yang sebenarnya merupakan politik Soeharto untuk membungkam masyarakat.

Zaman berubah, Soeharto jatuh, undang-undang pun berganti. Pertamina tunduk pada UU No. 22 tahun 2001. Peran Pertamina sebagai regulator diserahkan pada BP Migas (Badan Pelaksana Migas) di sektor hulu, yang embrionya adalah BPPKA, sebuah badan di dalam Pertamina. Sementara di sektor hilir, dibentuk BPH Migas (Badan Pengatur Hilir Migas). Dan Pertamina dikembalikan sebagai entitas bisnis yang harus mencari profit. Sebagai entitas bisnis, Pertamina juga tunduk pada UU tentang Perseroan Terbatas. Sehingga pada 1993, Pertamina pun berdiri sebagai badan hukum dengan nama PT Pertamina (Persero).

Namun, sebagai BUMN, Pertamina tetap harus mengemban tugas-tugas yang diberikan Pemerintah, yang dikenal sebagai public service obligation (PSO). Masyarakat mengenalnya sebagai BBM Bersubsidi. Dengan kata lain, tidak banyak yang berubah.

Posisi inilah yang tidak disadari masyarakat. Mereka terlena dengan jargon bahwa Indonesia negeri yang kaya, kaya sumber daya alam, kaya minyak dan gas. Tetapi mereka lupa bahwa jumlah penduduk bertambah lebih cepat, sementara jumlah produksi menurun lebih cepat lagi. (Dan jangan lupa, negeri yang kaya minyak dan gas, anehnya, terkena semacam kutukan. Pemerintahannya yang tidak demokratis, atau masyarakatnya menjadi malas dan tidak mau berpikir.)

Semua bisnis yang disubsidi, adalah bisnis yang tidak sehat. Itu dikatakan oleh Prof. Soebroto, mantan Menteri Pertambangan dan Energi yang flamboyant dengan dasi kupu-kupunya. Contohnya BBM yang bersubsidi, listrik PLN, tarif ekonomi Kereta Api Indonesia, tarif Pelni, dll. Semua bisnis yang tidak sehat secara ekonomis.

Saya bisa mengerti, tidak sehat karena sebenarnya supply and demand yang riil seringkali tidak didapatkan, dengan berbagai alasan politis atau manipulasi. Ditambah berbagai penyimpangan di lapangan yang sulit dijangkau hukum, termasuk pengoplosan dan penyelundupan BBM ke luar negeri karena adanya disparitas harga. Inilah yang dimanfaatkan para petualang.

Misalnya contoh kasus konversi minyak tanah ke Elpiji 3 Kg. Target semula tahun 2014, maju menjadi 2012, maju lagi menjadi 2010, sampai akhirnya 2009. Jelas target program yang dicanangkan Wapres Jusuf Kalla terlalu kental dengan nuansa politisnya. Akibatnya, percepatan pembangunan infrastruktur dan pasokan harus berlomba dengan target politis Sang Wapres memasuki gelanggang Pemilu dan Pilpres 2009.

Dalam beberapa kesempatan, seorang petinggi Pertamina mengatakan bahwa di Indonesia ini, tidak ada sector kehidupan yang tidak lepas dari (produk) Pertamina, bahkan 24 jam. Mulai dari isi tanki mobil atau motor kita, pelumas yan dipakai, bahan bakar di dapur, lilin, plastik, aspal jalanan, dan masih banyak lagi, lebih dari 100-an, produk turunan yang berasal dari minyak dan gas bumi.

Pertamina berbisnis di bisnis minyak dan gas bumi. Banyak pihak yang ingin menikmati uang hasil minyak ini. Mulai dari anak-anak Presiden Soeharto, kroninya, pensiunan jenderal-jenderal, orang-orang partai politik. Dalam suatu kesempatan wawancara dengan Prof. Dr. Bambang Permadi S. Brodjonegero, Dekan FE-UI saat ini, berkaitan dengan Seminar Mafia Minyak di UI, menyebutkan begitu banyak orang yang tertarik dengan uang minyak ini dan bermain di belakang layar.

Dalam hal PSO, Pemerintah memberikan tugas pada Pertamina, dan Pertamina tidak pernah bisa menolaknya. Ketika terjadi suatu krisis, Pemerintah tidak pernah membela Pertamina, dan Pertamina pun tidak bisa menyalahkan Pemerintah. Karena hitungan bisnis yang riil tidak selalu matching dengan perhitungan politis yang selalu berubah-ubah setiap saat.

Di tengah Pertamina yang terus disorot karena stigma beban warisan KKN yang dipikulnya dan upaya transformasi yang tengah dilakukan, ada sisi lain yang gelap, yang luput dari sorotan masyarakat. Apapun upaya Pertamina memperbaiki citranya, selalu ada cap negatif yang siap ditembakkan bila terjadi sesuatu dengan Pertamina. Dan setelah itu, berbagai isu dan teori muncul beredar, seperti yang bisa kita baca di media massa atau kita dengar dari media elektronik. *** (UHK, 19 – 20 Januari 2009)

Labels:

Tuesday, January 13, 2009

Pidato, Tangan, Sampah

PIDATO, TANGAN, SAMPAH

Tahun 2009 ini adalah tahun pemilu dan tahun pilpres. Jadi kita akan banyak melihat para politisi berpidato menjual kecapnya dalam kampanye untuk meraih suara sebanyak-banyaknya. Tetapi apa sih, pidato itu?

Pidato, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Ketiga (tetapi kayaknya bajakan neeh… - Pen.), berarti : (1) pengungkapan pikiran dl bentuk kata-kata yg ditujukan kpd orang banyak; (2) wacana yg disiapkan untuk diucapkan di depan khalayak.

Melihat arti tersebut, seseorang harus bisa merumuskan pemikirannya, baik lisan maupun tertulis, yang akan disampaikan kepada orang banyak. Sementara arti kedua lebih kepada tema apa yang mau disampaikan. Intinya, orang tersebut harus bicara tentang sesuatu hal (atau banyak hal).

Di instansi pemerintahan, pidato dan berbagai variannya seperti sambutan atau pengarahan, adalah hal yang biasa dan membosankan karena terlalu sering. Bahkan sebagian yang mendengarnya sampai tertidur. Ingat saja sewaktu Presiden SBY berpidato dalam sebuah acara di Lemhanas, tahun 2008 kemarin. Ada beberapa peserta, yang notabene adalah para kepala daerah, tertidur dan membuat murka Presiden. “Hey, bangun!” kata Presiden sambil menunjuk-nunjuk.

Kalau mendengar langsung memang bisa bikin kita tidur, tetapi kalau hanya melihat dari siaran televisi, mungkin bisa muntah. Soal pidato yang bikin muntah, tunggu sampai tulisan ini selesai ya…

Indonesia pernah punya jagoan pidato ulung. Soekarno. Dengan uniform militernya yang khas, kacamata hitam, peci dan tongkat, ia berpidato menyihir orang banyak. Bapak dan ibu saya dulu sering menceritakan bagaimana kalau Soekarno berpidato. Foto-fotonya memperlihatkan gaya pidatonya, dengan tangan kanan yang terangkat ke atas.

Gaya ini pula yang coba diikuti anaknya, Megawati. Mega selalu berpidato dengan gaya yang mendekati bapaknya, tangan terangkat ke atas, menunjuk langit. Ia pun sering difoto dengan latarbelakang foto bapaknya. Saya pikir mungkin Mega kurang percaya diri. Jadi dia perlu back up dari bapaknya, biarpun hanya foto saja.

Bung Tomo juga harus disebut sebagai jagoan pidato. Pidatonya pada peritiwa 10 November 1945, membakar hati pemuda-pemuda Surabaya (dan Jawa Timur) untuk bertempur melawan Inggris dan NICA. Fotonya juga hampir serupa dengan Soekarno. Diambil dari bawah, tangannya menentang langit.

Sedikit ke luar negeri, ada nama Fidel Castro, yang pernah lama memimpin Kuba. Tidak jelas, apakah dia jago pidato atau tidak, tetapi dia bisa berpidato sampai berjam-jam. Saya pernah membaca berita pndek tentang Castro yang pidato sampai 6 jam! Kalau saya di Kuba sana, saya bisa ditahan polisi rahasia, karena bolak-balik ke toilet setiap jamnya. Tuduhannya? Subversif. Tidak menghargai boss yang sedang berpidato.

Balik ke Indonesia lagi. Sugiharto, orang PPP yang pernah menjabat Menteri Negara BUMN, berpidato di acara BUMN Executive Club. Dalam tempo setengah jam, ia sudah akan selesai dan pamitan. Tahu-tahu, ia bercerita tentang perjalanan dengan Presiden ke Timur Tengah. Ujung-ujungnya, ia berpidato 2,5 jam, padahal sudah sempat pamitan sampai tiga kali. Gila.

Ada juga pidato yang bikin saya mau muntah. Pidatonya politisi Golkar yang punya stasiun televisi berita, Surya Paloh. Pidato dan penampilannya selalu mendapat porsi lebih panjang dari yang lain-lain, ketika disiarkan. Dia bisa dibiarkan sampai sepuluh menit, bahkan lebih. Maklum, televisi sendiri, boss! Dimulai dari tangannya yang terangkat ke atas, hingga tangannya sudah menuding ke bawah. Mungkin capai karena staminanya tidak mendukung.

Tidak apa-apa. Surya Paloh hanya mencontoh saja dari Harmoko, Ketua Umum Golkar yang adalah juara pidato tanpa tanding tanpa banding di era Orde Baru. Dia selalu berpidato dalam berbagai kesempatan, termasuk dalam Safari Ramadhan, atau juga berbicara pada wartawan selaku Menteri Penerangan yang adalah juru bicara Pemerintah. Rambutnya yang tebal, kaku dan licin, karena memakai minyak rambut satu tube penuh. Saking licin rambutnya, namanya pun kepeleset menjadi Hari-hari Omong Kosong.

Itu baru gaya pidatonya saja, belum wacananya. Bagaimana dengan tema atau topik yang dibicarakan?

Tentu ada pidato-pidato yang bagus dan tercatat dalam sejarah karena sangat monumental, biasanya menjadi milestone sebuah zaman. Tetapi saat ini tidak banyak pidato yang bagus seperti itu. Kecuali pidato kenegaraan di depan DPR yang memuat angka-angka APBN, menurut saya, pidato atau apapun juga namanya, hanyalah basa-basi dan puja-puji yang penuh penjilatan. Kalau masih mau bilang bagus, mungkin hanya bagus pada 10 sampai 15 menit pertama. Selebihnya cuma jualan kecap nomor satu yang mereknya Sampah. *** (UHK, 9 – 14 Januari 2009)

Labels:

Wednesday, January 07, 2009

Melihat Peta, Meramal Nasib

MELIHAT PETA, MERAMAL NASIB

Masih di sekitar tahun baru yang belum terlalu jauh, mungkin kita masih sempat merefleksikan diri kita setahun yang baru lewat dan setahun yang akan datang. Belum terlambat, karena walau tahun baru Islam dan tahun baru Masehi – dalam satu minggu yang sama di akhir tahun 2008 - baru lewat, masih ada tahun baru Imlek di depan mata.

Saya mau pergi ke sebuah kota, katakanlah Jogja, dan saya memilih naik kereta api. Makanya saya ingin tahu, lewat kota mana sajakah kereta yang saya naiki. Karena itu saya pun membuka peta. Setelah saya lihat, o, mungkin saya akan lewat Cirebon, Tegal, Purwokerto dan seterusnya ke selatan hingga akhirnya tiba di Jogja. Demikian saya membuat perkiraan perjalanan itu.

Begitu juga Anda kalau hendak bepergian jauh ke luar kota, ke luar pulau Jawa, atau ke luar negeri. Mungkin Anda akan melihat peta untuk melihat kota atau negeri tujuan, dan akan singgah dimana saja selama perjalanan itu. Bisa juga Anda tidak ingin melihat peta, tetapi saya yakin, Anda pasti ingin tahu lewat mana saja perjalanan Anda itu, entah bagaimana caranya.

Itu hal yang wajar, bahwa saya, Anda, dan kita semua selalu ingin tahu apa yang ada di depan kita di dalam perjalanan, sebagai suatu persiapan. Demikian pula kehidupan, sebagai suatu perjalanan. Orang ingin tahu apa yang akan terjadi dalam kehidupannya, di masa depan yang dekat, dan di masa depan yang jauh.

Kita mungkin pernah bertanya-tanya, seperti apa kita setahun yang akan datang, sepuluh tahun berikutnya, atau dua puluh lima tahun ke depan. Apakah hidup kita akan berbahagia? Atau malah susah terus-menerus? Apakah kita akan menikah sekali, atau berkali-kali? Atau mungkin malah tidak menikah sama sekali? Bagaimana dengan kesehatan kita? Apakah akan ada sakit yang berat? Keuangan kita? Anak-anak kita? Dan lain sebagainya.

Keingintahuan itu yang lalu mendorong kita untuk mencari tahu apa yang akan terjadi dengan hidup kita di masa depan. Melihat nasib dan peruntungan diri kita.

Ada banyak bidang keahlian yang katanya bisa membaca masa depan. Palmistri, astrologi, pembacaan kartu-kartu seperti tarot, remi, dll, pembacaan bola kristal, pembacaan ampas teh atau kopi, membaca asap, membaca awan, dan masih banyak lagi metode.

Untuk urusana yang satu ini, ternyata semua agama, apakah agama langit maupun agama bumi, kompak seia sekata. Sama-sama melarang, menentang dan tidak menyetujui peramalan nasib. Namun dasar namanya juga manusia, ada bagian dari otaknya yang korsluiting, sehingga sering salah membaca atau tidak menangkap apa yang dibacanya. Biasanya apa yang dilarang atau tidak disetujui, justru dilanggar dan diterjang.

Jadi, orang-orang tetap ada yang pergi mencari ahli peramalan nasib. Ada yang terang-terangan, tetapi mungkin lebih banyak yang diam-diam. Ssst…saya juga lho, tetapi saya tidak kemana-mana, saya hanya main-main dengn pendulum saya sendiri. Tanya-tanya sendiri, bikin prediksi, dan senyum sendiri. Juga ada kecutnya.

Kenapa agama melarang kita untuk melihat nasib? Entahlah, tetapi mungkin karena kita secara psikologis, sebenarnya tidak pernah benar-benar siap menerima kenyataan (negatif atau buruk) yang datang. Kita hanya mau yang baik-baik saja, tidak mau melihat yang buruk. Memang ada benarnya seperti itu. Namun jika hasil ramalan negatif, kebanyakan orang shock, terkejut, tidak bisa tidur berhari-hari dan bahkan sakit keras (misalnya stroke) karena memikirkannya.

Saya pernah mencoba menghitung usia saya dengan suatu metode palmistry tertentu. Dan saya benar-benar shock mengetahui hasilnya. Selama seminggu saya sulit tidur dan tidak nafsu makan. Barulah setelah saya shalat dan meditasi, saya mulai bisa ‘melupakan’ ramalan diri sendiri itu. Entah kalau nanti tiba waktunya. . Bukankah umur di tangan Tuhan? Hehehe... Eh, tangan kanan atau tangan kiri-Nya ya? Hahaha… *** (UHK, 7 Januari 2009)

Labels:

Saturday, January 03, 2009

Time

TIME
(Pink Floyd)


Ticking away the moments that make up a dull day
You fritter and waste the hours in an off hand way
Kicking around on a piece of ground in your home town
Waiting for someone or something to show you the way

Tired of lying in the sunshine staying home to watch the rain
You are young and life is long and there is time to kill today
And then one day you find ten years have got behind you
No one told you when to run, you missed the starting gun

And you run and you run to catch up with the sun, but it’s sinking
And racing around to come up behind you again
The sun is the same in the relative way, but you’re older
Shorter of breath and one day closer to death

Every year is getting shorter
Never seem to find the time
Plans that either come to naught or half a page of scribbled line
Hanging on in quiet desperation is the English way


The time is gone the song is over
Thought I’d something more to say

Catatan :










Album : The Dark Side of The Moon, 1973
David Gilmour : Vocals , guitars, VCS 3
Richard Wright : Keyboards, vocals, VCS 3
Roger Waters : Bass, vocals, VCS 3, tape effects
Nick Mason : Percussion, tape effects

Sound engineer: Alan Parsons
Backing vocals :Doris Troy, Leslie Duncan, Liza Strike, Barry St. John

Labels:

Tuesday, December 23, 2008

The Turn of A Friendly Card (Part II)











THE TURN OF A FRIENDLY CARD
(PART II)
(The Alan Parsons Project)


There are unsmiling faces in fetters and chains
On a wheel in perpetual motion
Who belong to all races and answer all names
With no show of an outward emotion

And they think it will make their lives easier
But the doorway before them is barred
And the game never ends when your whole world depends
On the turn of a friendly card
No the game never ends when your whole world depends
On the turn of a friendly card

Catatan :
Album : The Turn of A Friendly Card, 1979
Lead vocals : Chris Rainbow
Bass : David Paton
Drums and percussion : Stuart Elliot
Acoustic and electric guitars : Ian Bairnson
Keyboards : Eric Woolfson
Additional keyboards : Alan Parsons
The Orchestra of The Munich Chamber Opera
Care of Eberhard Schoener
Leader : Sandor Farcas
Orchestra Coordinator : Curtis Briggs

Labels:

Sunday, December 21, 2008

Before Sunset, Before Sunrise dan Soulmate

BEFORE SUNSET, BEFORE SUNRISE DAN SOULMATE

Saya sebenarnya bukanlah pencandu film, tetapi setiap menjelang Hari Natal dan Tahun Baru, saya suka menyetel TV dan menungguin film-film drama yang bagus., yang diputar dinihari. Mungkin tentang Natal, atau Tahun Baru, biasanya percintaan.

Dinihari tadi, Senin (22/12) pukul 02.00, di stasiun Trans TV saya mendapatkan film Before Sunset yang dibintangi Julie Delphy (sebagai Celine) dan Ethan Hawke (sebagai Jesse). Memang sudah agak lambat masuknya, tetapi masih dapat ceritanya. Jesse, seorang penulis muda Amerika , melaunching bukunya di sebuah toko buku di Paris. Dan ia pun bertemu kembali dengan seorang wanita yang dikenalnya setahun lalu, di kereta Paris – Wina. Namanya Celine.

Mereka keluar dari toko buku, berjalan-jalan menyusuri lorong-lorong kota Paris yang eksotis. Pertanyaan dari Celine pada Jesse adalah,”Apakah enam bulan yang lalu, kau jadi ke Wina?” Pertanyaan itu dijawab tidak oleh Jesse, namun belakangan diakui olehnya bahwa enam bulan yang lalu ia memang datang ke Wina dengan harapan bisa bertemu kembali dengan Celine.

Sedikit mundur, akhir tahun 2006, saya ingat menonton sebuah film di stasiun TV7 dengan judul Before Sunrise, yang dibintangi Ethan Hawke dan Julie Delphy ini. Kisahnya tentang seorang pemuda Amerika, Jesse, yang naik kereta dari Paris menuju Wina, tanpa tujuan tertentu, hanya sekadar jalan-jalan saja. Di kereta, ia bertemu dengan Celine, wanita Perancis. Mereka lalu menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan menyusuri lorong-lorong kota Wina malam hari, termasuk hubungan cinta semalam. Mereka bertemu dengan penyair jalanan yang mencari nafkah dari menulis puisi untuk orang-orang yang ditemuinya di tepi sungai. Dan setelah itu, mereka berjanji untuk bertemu kembali enam bulan kemudian, di Wina. Mereka tidak meninggalkan alamat dan nomor telepon, kecuali sebuah keinginan untuk bertemu kembali.

Kembali ke film Before Sunset. Mereka jalan-jalan di kota Paris, singgah di kafe kesukaan Celine, menyusuri Sungai Seine yang membelah Paris, melihat Notre Dame dan akhirnya tiba di apartemen Celine di salah satu sudut kota tua Paris.

Di dalam apartemen, Celine membuatkan Jesse teh campur madu. Lalu memperdengarkan sebuah lagu berirama waltz yang ditulis setahun lalu setelah bertemu seorang pria. Celine lalu sekali lagi mengingatkan Jesse untuk segera ke airport, karena ia bisa ketinggalan pesawat meuju New York. Apa jawaban Jesse?

Nanti dulu soal jawaban Jesse itu. Saya tidak ingin bicara tentang alur cerita dan acting mereka, saya lebih ingin bicara tentang aspek hubungan mereka.

Sering kita bertemu dengan seseorang yang baru sama sekali. Pria bertemu wanita, wanita bertemu pria, atau bahkan sesama jenis. Soal usia bisa dikesampingkan. Apalagi soal apakah mereka menikah atau tidak menikah, atau belum menikah, juga abaikan saja. Mungkin itu di kota kita sendiri, atau di kota yang kita kunjungi. Kita berbicara satu sama lain, berusaha menarik perhatian lawan bicara kita dan berusaha untuk mendengarkan apa yang ia katakan.

Ada pepatah yang pernah saya baca, ketika pria bertemu wanita, yang dipikirkan hanyalah seks saja. Dan wanita berpikir tentang cinta. Mungkin ada benarnya. Yang pria ingin menikmati waktu yang singkat dengan bercinta dan selesai, sementara yang wanita ingin bercinta untuk mendapatkan si pria selamanya.

Cerita akan semakin menarik ketika kita juga bicara tentang pasangan kita. Jesse sudah menikah dengan seorang guru SD di New York dan memiliki seorang putra usia empat tahun. Celine lajang yang belum menikah, walau jam terbangnya dalam cinta sudah tinggi. Tetapi keduanya menikmati pertemuan mereka.

Hubungan suami – istri, dalam pandangan saya, tidak selalu berjodoh atau sejodoh. Ketika dalam proses pendekatan dan percintaan, semua terasa indah dan oke. Tetapi setelah menikah, mungkin baru ketahuan ketidak cocokan satu sama lain. Apalagi bersamaan dengan berlalunya waktu, maka hubungan pun menjadi dingin dan kehilangan bara apinya. Yang satu merasa asing dengan yang lainnya, dan semua dilakukan sekadar memenuhi kewajiban sebagai suami istri saja. Tidak lebih, tidak kurang.

Tentu ini cerita yang bisa terjadi dimana saja, denan siapa saja, walau mungkin terlalu didramatisir.

Dan suasana berubah ketika kita bertemu dengan orang lain. Di suatu tempat, di suatu waktu, di suatu acara, di suatu kelompok atau komunitas. Atau mungkin di kereta, seperti yang saya sering alami. Ada pertemuan yang berlanjut karena memang ada kecocokan diantara para pelaku, tetapi ada juga yang berhenti sampai di situ saja. Selesai.

Soulmate atau jodoh, atau belahan jiwa, saya lihat tidak harus selalu suami dan istri. Dia bisa siapa saja, teman yang baru kita kenal, teman lama yang selalu kita ingat, teman kantor, teman di lingkungan kita tinggal, atau teman dimanapun juga kita merasa cocok satu sama lain dengan orang itu.

Jadi singkatnya, suami dan istri tidak selalu jodoh, jodoh tidak selalu menjadi suami istri. Jodoh bisa saja sesama pria atau sesama wanita, dengan saudara pun bisa. Singkatnya, dengan siapa pun kita bisa berbagi cerita dan perasaan. Bisa dekat secara emosional dan spiritual.

Ah, panjang sekali teori saya tentang perjodohan ini ya…

O, ya, ketika Celine mengingatkan Jesse bahwa ia akan ketinggalan pesawat, apa jawaban Jesse? Jesse bilang ia tahu akan ketinggalan pesawat. Ia memilih untuk ketinggalan pesawat. Film pun selesai. So? ML-kah mereka?

Sebagai pemanis, anggap saja mereka memang menghabiskan malam bersama-sama. Kita pun lebih senang dengan ending yang bahagia, kan? Hehehe… *** (UHK, 22 Desember 2008)

Labels:

Friday, December 19, 2008

Latihan Anti-Teror

LATIHAN ANTI-TEROR

Sejak serangan terorisme bulan November lalu ke Mumbai, India, demam terorisme, tepatnya anti-teror, merebak ke seluruh dunia. Hampir setiap hari saya membaca berita, attau menonton siaran berita di televisi, tentang simulasi latihan anti-teror di berbagai kota, misalnya minggu lalu latihan di Makassar. Tentu latihan ini selalu melibatkan unit-unit anti-teror milik TNI dan Polri, serta berbagai instansi pemerintah. Termasuk hari ini, Jumat (19/12), di Kantor Pusat Pertamina. Latihan melibatkan pasukan Yon 323/Raider Kostrad.

Skenarionya, teroris menyerbu Kantor Pusat Pertamina dan menguasai Lantai 2 dan Lantai 8, dan menyandera beberapa orang. Kostrad kemudian mengirimkan pasukan anti-terornya dari unit Yon 323/Raider untuk mengatasi teroris. Pasukan diterjunkan dari dari heli dan mendarat di puncak, turun melalui tangga ke lantai 8. Sementara pada saat yang sama dari bawah juga pasukan juga bergerak. Gerak cepat pasukan Kostrad akhirnya dapat mematahkan teroris tidak kurang dari 20 menit saja, sekalian mengevakuasi para sandera.

Begitu cepat? Ya, jelas cepat. Pertama, karena memang skenarionya begitu. Harus cepat, sesuai dengan predikatnya pasukan anti-teror, harus lebih cepat dari para teroris. Yang kedua, nanti saya kasih tahu di bagian bawah esai ini.

Ngomong-ngomong, apa sih terorisme itu? Saya menemukan jawabannya dari wikipedia. Terorisme adalah serangan-serangan terkoordinasi yang bertujuan membangkitkan perasaan teror terhadap sekelompok masyarakat. Berbeda dengan perang, aksi terorisme tidak tunduk pada tatacara peperangan seperti waktu pelaksanaan yang selalu tiba-tiba dan target korban jiwa yang acak serta seringkali merupakan warga sipil.

Masih dari wikipedia, istilah ‘teroris’ oleh para ahli kontra-terorisme dikatakan merujuk kepada para pelaku yang tidak tergabung dalam angkatan bersenjata yang dikenal, atau tidak menuruti peraturan angkatan bersenjata tersebut. Aksi terorisme juga mengandung makna bahwa serangan-serangan teroris yang dilakukan tidak berperikemanusiaan dan tidak memeiliki justifikasi, dan oleh karena itu para pelakunya (teroris) layak mendapatkan pembalasan yang kejam.

Akibat makna-makna negatif negatif yang dikandung oleh perkataan ‘teroris’ dan ‘terorisme’, para teroris umumnya menyebut diri mereka sebagai separatis, pejuang pembebasan, pasukan perang salib, militan, mujahidin, dan lain-lain. Adapun makna sebenarnya dari jihad, mujahidin adalah jauh dari tindakan terorisme yang menyerang penduduk sipil padahal tidak terlibat dalam perang. Terorisme sendiri sering tampak dengan mengatasnamakan agama.

Demikian kata wikipedia tentang terorisme.

Saya sendiri termasuk suka dan senang mengikuti berita dan cerita tentang terorisme dan kontra-terorisme sejak masih duduk di SD tahun 1970-an akhir. Selalu ada cerita-cerita dibalik layar tentang perburuan teroris yang menegangkan. Saya ingat, tahun 1978, saya mulai mengenal kisah-kisah terorisme, misalnya Black September, Brigade Merah Italia, kelompok Baader Mainhoff Jerman, dan Tentara Merah Jepang. Dan yang paling terkenal adalah teroris Carlos beserta gerombolannya, yang di negara asalnya dikenal sebagai dermawan. Carlos terkenal karena menyerbu markas OPEC di Wina, Austria.

Teroris generasi pertama biasanya selalu melakukan pembajakan pesawat, gedung, atau obyek apa saja yang diam. Mungkin anda ingat dengan Kedutaan Besar RI di Belanda yang pernah dibajak oleh aktivis-aktivis RMS tahun 1970-an?

Tetapi perubahan kemudian terjadi. Para teroris tidak lagi hanya melakukan pembajakan, tetapi banyak yang melakukan dengan cara serangan bunuh diri. Yang paling terkenal, anda pasti masih ingat, serangan terhadap menara kembar WTC New York pada 11 September 2001.

Indonesia pun akhirnya masuk dalam peta perang melawan terorisme, setelah serangan bom bunuh diri dengan sasaran-saran sipil seperti gereja-gereja di Jakarta, kafe-kafe di Bali, Hotel JW Marriot Jakarta dan juga Kedutaan Australia di Jakarta. Tentu cerita akan lebih panjang lagi, tetapi nanti saja lain waktu, kalau momentnya pas.

Eh, ya, lalu anda ingin tahu alasan kedua kenapa latihan anti-teror yang sudah disebutkan di atas bisa begitu cepat, hanya dalam waktu 20 menit? Ya, karena markas Kostrad dengan Kantor Pertamina bertetangga, bersebelahan, di Jalan Medan Merdeka Timur, Jakarta. Jadi ibarataanya, pasukannya tinggal loncat pagar saja. Makanya cepat. Hahaha… *** (UHK, 19 Desember 2008)

Labels:

Thursday, December 18, 2008

Prestasi Menukik, Manajer Ditendang

PRESTASI MENUKIK, MANAJER DITENDANG

Keras dan kejamnya sepakbola profesional liga-liga Eropa kembali memakan korban. Dan seperti yang sudah diduga, korbannya adalah manajer tim. Kali ini Paul Ince dipecat oleh manajemen Blackburn Rovers Selasa kemarin, setelah bertugas hanya 6 bulan saja sementara Blackburn Rovers terdampar di peringkat 19 klasemen sementara Liga Premier Inggris.

Dunia sepakbola profesional (Eropa) memang telah berubah drastic dan menjadi kejam, sejak klub menjadi dilihat sebagai sebuah entitas bisnis yang diharapkan mendatangkan keuntungan. Klub-klub liga-liga Inggris, Spanyol, Italia, dan Jerman mempunyai trend yang sama. Untuk klub-klub besar seperti Real Madrid, Barcelona, Bayern Muenchen, Chelsea, Manchester United, Inter Milan, Juventus, dll. prestasi diukur dari raihan gelar dan piala di akhir musim. Gagal atau tanpa gelar, maka pintu keluar terbuka untuk sang manajer atau pelatih. Bahkan pelatih sekaliber Vicente del Bosque dan Fabio Capello yang memberikan gelar untuk Madrid pun, ditendang. Ingat saja Roberto Mancini yang ditendang Inter Milan musim lalu, padahal ia memberikan gelar scudetto. Apalagi jika tanpa gelar dan piala di akhir musim. Silakan angkat kaki.

Untuk beberapa klub lainnya, mungkin sulit untuk bicara gelar atau piala. Mereka hanya memasang target untuk finish di zona Eropa yang akan mengantarkan mereka lolos ke Piala UEFA. Atau jika pun tidak bisa masuk ke zona itu, ya setinggi-tingginya di klasemen akhir kompetisi liga.

Namun hampir semua klub, tak peduli klub besar atau kecil, pasti akan resah jika klubnya terus menerus menderita kekalahan beruntun dan masuk zona degradasi. Pemecahan yang paling cepat adalah memecat manajer atau pelatihnya. Tidak ada klub yang memecat pemain untuk sebuah kegagalan.

Musim ini saja, di Liga Inggris kita bisa lihat beberapa manajer yang mundur atau dipecat. Kevin Keegan (mundur dari Newcastle United), Juande Ramos (dipecat Tottenham Hotspur), Alan Curbishley (dipecat West Ham), Roy Keane (mundur dari Sunderland), Harry Redknapp (mundur dari Portsmouth, lalu masuk ke Tottenham), dan terakhir Paul Ince.

Sementara di liga Spanyol, yang paling heboh tentu ketika Bernd Schuster dipecat untuk kemudian digantikan oleh Juande Ramos yang sebelumnya ditendang Tottenham. Masih ada beberapa klub lain di berbagai liga, termasuk Markus Babbel yang menggantikan Armin Veh di VfB Stuttgart.

Ada manajer atau pelatih yang ditendang atau dipecat, tetapi dunia sepakbola tidak akan kekurangan peminat yang ingin mengisi posisi tersebut. Banyak manajer atau pelatih yang mengganggur, menunggu rekan mereka jatuh dan tergusur dari klubnya. Mereka pun siap menggantikannya. Atau manajer dan pelatih muda yang naik. Mereka semua sangat sadar betul risiko pekerjaan mereka dan apa yang dipertaruhkannya dalam bisnis yang hasilnya bisa dilihat dan dihitung setiap minggu. Menang, seri atau kalah, dan ada di peringkat berapa pada klasemen.

Anehnya, manajer atau pelatih yang sukses biasanya bukanlah mantan pemain top pada zamannya. Mereka cuma pemain yang biasa-biasa saja, bahkan nyaris tidak terdengar apalagi diingat. Siapa yang kenal Alex Ferguson di masa ia bermain? Arsene Wenger? Arrigo Sacchi? Jose Mourinho? Mungkin tidak banyak. Bandingkan dengan Alfredo di Stefano, Johan Cruyff, Franz Beckenbauer, Kevin Keegan, Kenny Dalglish. Mereka adalah pemain-pemain hebat pada masanya. Tetapi sebagai manajer, nama bukanlah jaminan akan kesuksesan. Banyak mantan pemain top yang jadi manajer atau pelatih, dan hasilnya gagal.

Namun hampir semua manajer atau pelatih, sebenarnya menginginkan dukungan yang solid dari pihak manajemen dan supporter klub. Dan mereka membutuhkan waktu yang cukup dalam membangun timnya. Tidak semua manajer atau pelatih bertangan Midas, selalu sukses pada tahun pertama. Dan tidak semua manajer atau pelatih dibekali uang yang banyak untuk membeli pemain yang diinginkannya. Jose Mourinho bisa sukses berkat dukungan dana yang kuat dari Roman Abramovich dan pemain-pemain terbaik di setiap lini. Tetapi lihat, Alex Ferguson baru sukses tahun 1992, setelah memegang MU sejak 1986. Dan Arsene Wenger sukses pada tahun keduanya setelah menangani Arsenal sejak 1996.

David Moyes yang menangani Everton mengemukan kecemburuannya. Katanya tidak banyak manajer atau pelatih yang punya kesempatan untuk bertahan hingga bertahun-tahun di sebuah klub. Yang ada, mereka dituntut untuk memberikan hasil instant, dan bisa dipecat setiap saat kapan saja bila prestasi klub mereka menukik. *** (UHK, 18 Desember 2008)

Labels:

Monday, December 15, 2008

UHK Mejeng...



Jarang-jarang UHK mau mejeng untuk berfoto. Foto diambil di Gedung Elnusa Lantai 15, Jl. TB Simatupng, Jakarta Selatan, pada Senin, 15 Desember 2008 oleh Dadang RP/Divkom Pertamina.

Labels: